KAJIAN FIQIH

PUASA SEBAGAI WAHANA TRANSFORMASI DIRI

Oleh : Zudi Rahmanto

A.   Pendahuluan

Puasa dalam bahasa arab disebut الصيام  atau الصوم yang berarti الإمساك atau menahan (diri){al Jurjani, Minhajul Muslim hal. 252}. Sedangkan secara terminologis puasa dimaknai sebagai menahan diri dari makan, minum, hubungan kelamin dan hal-hal lain yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat ibadah. (Ibid, bandingkan As Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah I, hal.259).

Secara lahiriah puasa adalah ibadah badaniah, tetapi secara batiniah, nilainya terletak pada jiwa pelakunya, yang tentu tidak diketahui kecuali oleh Allah SWT dan lantaran itu pula, hanya Allah semata yang mengetahui kadar ganjarannya.

Puasa dalam arti menahan makan dan minum saja telah dikenal oleh ummat-ummat terdahulu, puasa hingga kini senantiasa dilakukan orang, kendati dengan motivasi yang berbeda-beda. Makanya dalam divinisi diatas, dibatasi dengan adanya niat, bukankah sahnya amalan itu tergantung niatnya?

Pengertian puasa yang kongkret dalam Islam sebagaimana rumusan di ataslah yang membedakan antara puasa dalam Islam dengan berbagai puasa yang berkembang di muka bumi ini, terutama yang dikenal sebelum Isslam datang. Menyadari begitu istimewanya puasa dalam Islam, Al Ghazali menerangkan bahwa puasa adalah seperempat iman, mengingat sabda Nabi : “Siyam adalah separuh dari kesabaran”, dan hadits nabi yang lain : “ Kesabaran merupakan separuh Iman”. (Ash Shiddiqy, Pedoman Puasa, 1973 hal. 55).

B.   Dasar Hukum Puasa

Ibadah puasa mulai diwajibkan kepada ummat Islam melalui Nabi Muhammad SAW pada Bulan Sya’ban tahun 2 Hijriyah (1427 tahun yang lalu), dengan turunnya Surat Al Baqarah ayat 183-184 :

183.  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

184.  (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.

[114]  maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

185.  (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Adapun dasar hukum pelaksanaan ibadah puasa yang bersumber dari al hadits, diantaranya adalah :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي سُهَيْلِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ طَلْحَةَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلَا يُفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ

C.   Tujuan Pelaksanaan Ibadah Puasa

Pada hakekatnya puasa merupakan pendidikan dan latihan kejiwaan agar manusia mampu mengendalikan diri serta mengarahkan keinginan-keinginannya. Pengendalian dan pengarahan ini sangat dibutuhkan oleh manusia, baik sebagai pribadi ataupun kelompok, karena secara umum jiwa manusia sangat mudah terpengaruh oleh berbagai hal, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kesadaran untuk mengendalikan diri serta tekad yang kuat untuk melawan bujukan dan bisikan negatif ( Quraish Shihab, Falsafah Hukum Islam, 1992:198).

Sedangkan A. Musthofa Bisri dalam Rubrik Hikmah Ramadan mencatat, bahwa maksud pengendalian/penjagaan diri dengan puasa diantaranya :

  1. Penjagaan diri dari hukuman Allah dengan cara mentaatiNya
  2. Penjagaan diri dari mengabaikan perintah-perintah Allah dan melanggar larangan-laranganNya
  3. Penjagaan diri dari melaksanakan hal-hal yang menjauhkan diri dari Allah SWT
  4. Penjagaan diri jangan sampai mengikuti hawa nafsu dan tergoda bujukan syetan,
  5. Penjagaan diri jangan sampai tidak mengikuti jejak Rasulullah SAW.

Orang mukmin yang menjaga dirinya terhadap seretan hawa nafsunya, atau godaan setan, berarti menjaga diri dari mengabaikan perintah Allah dan dari melakukan hal-hal yang dilarangNya, berarti dia menjaga diri agar tetap mengikuti jejak Rasulullah SAW, berarti pula menjaga diri dari hukuman Allah dan dijauhkan darinya. ( Kedaulatan Rakyat, Sabtu Wage, 13/9/2008 hal. 32)

Puasa Ramadhan merupakan sendi ajaran Islam atau rukun Islam yang boleh jadi menjadi ibadah wajib yang paling mendalam pada jiwa muslim yang mengamalkannya. Pengamalan selama satu bulan dengan berbagai amaliah yang menyertainya, seperti : berbuka, salat tarawih, tadarrus, makan ssahur, bersedekah dan lain sebagainya terasa sangat membekas dalam sanubari setiap muslim.

D.   Tiplogi Orang yang menjalankan Ibadah Puasa

Ibadah Puasa yang didasari iman kepada Allah SWT adalah dia rela dengan adannya kewajiban puasa kepadanya, dengan menharapkan pahala, dganjaran, rahmat dari pelaksanaan puasa tersebut dengan tanpa adanya rasa terpaksa dalam menjalankannya, disertai harapan kiranya Allah SWt menerima ibadahnya.

Adapun orang yang menjalankan ibadah puasa, menurut al Ghazali, dikategorikan menjadi tiga tipologi, yaitu : Puasanya orang kebanyakan (awam), puasanya orang istimewa (VIP) dan puasanya orang super istimewa (VVIP). Berikut ini kriteria masing-masing :

  1. Puasa Orang Awam

Pelaksanaan puasa tipe ini adalah hanya sebatas memenuhi syarat dan rukun yang telah ditentukan leh hukum. Puasa jenis ini telah dinilai sah secara aturan formal, dan mendapat penilaian juga oleh Allah : ” Wahai malaikatKu, lihatlah kepada hambaKu, dia telah meninggalkan syahwat, makan dan minum karena Aku”.

  1. Puasa Orang Khawash (VIP)

Adalah pelaksanaan puasa yang dilakukan oleh para Shalihin, mereka melakukan puasa tidak sekedar meninggalkan makan, minum dan syahwat saja, akan tetapi mereka juga menahgan semua alat indera dari perbuatan maksiat. Mereka mampu menajaga mata, lisan, telinga, semua anggota badan dari hal-hal yang dilarang dan menggunakan semuanya untuk mendekatkan diri kepada sang Khaliq.

  1. Puasa orang Khawashil Khawash (VVIP)

Adalah menjalankan puasa dengan menahan hatinya dari kemauan/keinginan yang rendahlhina dan dari pemikiran duniawi, pikirannya senantiasa terkoneksi dengan Allah SWT. Puasa yang demikian adalah sebagaimana yang dilakukan oleh para Nabiyullah dan para Shiddiqin.

E.   Langkah Tranformatif Ibadah Puasa

Kita sudah sering mendengar, bahwa puasa itu mempunyai daya perubahan kepribadian manusia yang melaksanakannya dengan imanan wah tisaban

  1. Sepuluh hari pertama adalah Maghfirah, ampunan Allah

Tentu saja hal ini tidak datang serta merta, tetapi tergantung kesiapan seseorang yang akan ditransformasi. Oleh karena itu, barang siapa yang merasa gembira datangnya ramadhan, Allah mengharamkan dirinya dari api neraka.

  1. Sepuluh hari Kedua adalah Rahmat, kasih sayang Allah.

Atas kasih sayang Allah, kita masih diberi kesempatan masuk dalam termin kedua ibadah Ramadhan.Patutlah kita bersyukur, atas kesempatan yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita

  1. Sepuluh hari Terakhir, adalah Kebebasan manusia dari Siksa Neraka.

Predikat ini adalah puncak transformasi seseorang melalui puasa yang dilakukannya selama sebulan penuh.

Adapun menurut Sulaiman Rasyid, puasa itu mengandung beberapa hikmah, di antaranya adalah :

  1. Sebagai tanda terima kasih kepada Allah karena semua ibadah mengandung arti syukur kepada Allah atas nikmat pemberianNya, yang tidak terhingga banyaknya, dan tidak ternilai harganya
  2. Sebagai media Pendidikan Kepercayaan. Seseorang yang telah sanggup menahan makan dan minum dari harta yang halalmilik sendiri, karena ingat perintah Allah, sudah barangtentu ia tidak akan meninggalkan segala perintah Allah, dan tidak akan berani melanggar segala laranganNya.
  3. Sebagai media Pendidikan solidaritas dan belas kasihan kepada fakir miskin, karena seseorang telah merasakan sakit dan pedihnya perut keroncongan. Hal tersebut aklan dapa mengukur kesedihan dan kesusahan orang yang sepanjang waktu merasakan lapar dan keterbatasan lain, karena tidak memiliki apa-apa untuk dikonsumsi. Dengan demikian, ideal puasa adalah menumbuhkan jiwa belas kasih dan peduli terhadap fakir miskin.
  4. Sebagai media penjaga kesehatan, baik kesehatan badaniah maupun rohaniyah.

F.   Penutup

Demikian uraian sederhana ini disajikan, mudah-mudahan membawa manfaat. Terakhir, patut dicatat pesan Rasulullah SAW kepada kita semua : ” Seburuk-buruk pengisian wadah yang dilakukan manusia adalah ketika ia mengisi perutnya. Sebenarnya beberapa potong roti sudah cukup untuk menjaga agar persendian badannya tetap tegak, tetapi kalau memang ia harus mengisi perutnya, maka sepertiga diisi dengan makanan, sepertiga dengan minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya”. Wallahu A’lam bis Shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s