ARTIKEL UMUM

KESURUPAN DALAM PANDANGAN ISLAM

A. Definisi Kesurupan
Kesurupan (Ash shar ‘u) ialah ketimpangan yang menimpa akal manusia sehingga tidak dapat menyadari apa yang diucapkannya dan tidak dapat pula menghubungkan antara apa yang telah diucapkan dengan apa yang akan diucapkannya. Orang yang terkena kesurupan ini akan mengalami kehilangan ingatan sebagai akibat dari ketimpangan pada saraf otak. Ketimpangan akal ini akan diiringi dengan ketimpangan pada gerakan-gerakan orang kesurupan sehingga berjalan terhuyung-huyung dan tidak dapat mengendalikan jalannya.
Diantara fenomena kesurupan ini adalah kekacauan dalam ucapan, perbuatan dan fikiran.
Al Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam “Fathul Bary” mengatakan kesurupan bisa jadi karena gangguan jin, dan tidak terjadi kecuali dari mereka yang berjiwa kotor; kemungkinan karena baiknya sebagian jenis manusia atau karena menimpakan gangguan kepadanya semata-mata.
Jadi hakikat kesurupan yang diakibatkan oleh gangguan jin adalah masuknya jin dalam tubuh manusia. Bisa jadi karena jin itu bekerjasama dengan tukang sihir/dukun dan inilah yang disebut Sihir, atau karena menyusup sendiri kedalam tubuh “seseorang” (manusia) karena ia benci atau karena ia cinta pada orang tersebut.
B. Eksistensi Jin
Karena hakikat kesurupan bisa jadi diakibatkan oleh jin, maka perlu kita uraikan eksistensi (hakikat adanya) jin yang sesungguhnya sehingga tidak lagi terkesan bahwa keberadaan jin adalah sesuatu yang khurafat.

Jin adalah salah satu jenis ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala yang masuk dalam kategori alam ghoib. Dan keimanan kepada perkara-perkara ghoib (al ghoibiyyat) adalah sesuatu yang wajib bahkan menjadi sifat pertama yang dipakai oleh Allah untuk mensifati orang-orang yang bertaqwa (lihat QS.2 :1-3). Adapun hal-hal yang ghoib lainnya adalah Allah subhanahu Wata’ala sendiri dzat maupun sifatnya, malaikat, hari kebangkitan, syurga dengan berbagai kenikmatannya serta neraka dengan berbagai bentuk siksaannya. Allah berfirman:
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ
Artinya: Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.(Qs.7 : 27)
Eksistensi (hakikat adanya) jin ditunjukkan dengan banyaknya ayat dalam Al Qur’an yang menyebutkan tentang Jin, bahkan ada satu surat yang dinamai dengan Surat Al Jin (Surat ke 72). Kata “ Jin ” disebutkan di dalam Al Qur’an sebanyak 22 kali, sedangkan kata “ al-jaan “ disebutkan 7 kali. Jadi makhluk jin ini disebutkan di dalam Al Qur’an sebanyak 29 kali. Penyebutan kata Jin ini sudah menunjukkan eksistensinya, dan untuk apa Allah menyebutkannya kalau memang tidak ada.
Firman Allah Ta’ala :

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

Artinya: “dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan ” (QS.46: 29).
Dalil-dalil lainnya dapat dilihat misalnya dalam surat : 6 : 130, 55 : 33, 72 : 1 dan 6, 5 : 91, 51 : 56 dan ayat-ayat lainnya. Dalil-dalil As Sunnah juga sangat banyak menyebutkan tentang eksistensi Jin ini, diantaranya : Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘Anha

خلقت الملائكة من نور وخلق الجان من مارج من نار وخلق آدم مما وصف لكم

‘Artinya : “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin dari api, dan Adam diciptakan dari yang telah dejelaskan kepada kalian “ (Hadits shahih R.Bukhari dan Muslim).

C. Sifat-sifat Jin
Dijelaskan dalam ayat-ayat Al Qur’an dan as Sunnah tentang sebagian sifat-sifat jin yaitu:
1. Jin diciptakan dari api, dan diciptakan lebih dahulu dari manusia (QS. 15 : 26-27)
2. Jin berjenis kelamin, laki-laki dan perempuan serta kawin dan berketurunan (QS. 55 : 56, dan 18 : 50 ) dan bisa kawin dengan manusia
3. Iblis termasuk dari golongan jin bukan dari golongan malaikat (QS. 18 : 50)
4. Terdiri atas 3 jenis :
• Jenis jin yang memiliki sayap dan terbang di udara
• Jenis ular dan kalajengking atau anjing berwarna hitam
• Jenis yang menetap dan berpindah-pindah. (H. Ath Thabrany, Al Hakim, Al baihaqi di dalam Asma wa shifat dengan sanad yang shahih)
5. Memiliki bentuk rupa yang buruk
6. Memiliki 2 tanduk (HR.Bukhari dan Muslim)
7. Jin juga makan dan minum, makanannya adalah tulang dan kotoran manusia serta semua makanan yang tidak dibaca dengan nama Allah (Bismillah).
8. Jin bisa menyerupakan diri sebagai manusia dan binatang tetapi bukan dalam bentuknya yang asli, Imam Syafi’I Rahimahullah mengatakan: “Bohong orang yang mengatakan melihat jin (dalam bentuknya yang hakiki)”.
9. Jin termasuk makhluk mukallaf (dibebankan kewajiban beribadah kepada Allah) lihat QS.51:56), karena itu ada yang ta’at (Muslim) dan ada yang membangkang (Kafir) lihat QS. 72 : 11 dan 14-15.
10. Rasul yang diikuti oleh jin adalah Rasul dari kalangan manusia (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam). Lihat QS. 6 : 130.
11. Mereka menyenangi beberapa tempat, seperti : rumah yang di dalamnya ada anjing, di tempat-tempat kotor, kosong dan gelap, reruntuhan bangunan, di lubang-lubang, batu-batu, tanah yang gundul, kuburan, lautan, tempat yang ada suara musik seperti seruling, lonceng dan alat-alat musik lainnya, tempat-tempat yang ada patung dan gambar-gambar bernyawa, rumah yang di dalamnya lalai disebut nama-nama Allah, lalai beribadah, lalai dalam memelihara syari’at dan lalai membaca Al Qur’an. Mereka juga berada di antara barisan shalat (shaf) yang renggang, mereka juga menyenangi pasar-pasar.
12. Syetan jin dapat mencuri informasi dari langit. Mereka berta’awun dengan dukun/paranormal. Informasi yang berhasi yang dicuri oleh jin tersebut disampaikan kepada dukun/paranormal sehingga dukun/paranormal itu dapat menyampaikan hal-hal yang belum terjadi.
13. Jin juga dapat menculik manusia.
14. Jin menguasai dan mengalahkan manusia yang banyak berbuat dosa, sebaliknya tidak dapat menguasai dan mengalahkan orang-orang yang kuat imannya.

D. Dalil-Dalil Tentang Eksistensi Kesurupan Jin
Pertama : Dalil Al Qur’an
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. 2 : 275).
Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: “di dalam ayat ini terdapat dalil atas kesalahan orang yang mengingkari kesurupan jin dan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan pengaruh tabiat, atau syetan tidak dapat masuk pada diri manusia dan tidak dapat mengganggunya menjadi gila.
Sedangkan Al Alusi memberikan komentar: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan riba, mereka tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kesurupan di dunia. Kata Attakhabbuth ialah pukulan bertubu-tubi di berbagai penjuru. Firman Allah minal massi, yakni penyakit gila. Dan dikatakan mussa arrajulu fahua masuus yakni gila, asalnya adalah menyentuh dengan tangan dan dikatakan demikian karena syetan mungkin menyentuh seseorang dan persentuhannya itu menimbulkan kerusakan sehingga menimbulkan gila.
Kedua : Dalil As Sunnah
Dari Mathar bin Abdur Rahman Al A’naq, ia berkata, : Telah menceritakan kepadaku Ummu Abban binti Al Wazi’ bin Zari’ bin Amir Al Abdi dari bapaknya bahwa Kakeknya A Zari’ pergi menemui Rasulullah SAW dengan membawa anaknya atau anak saudara perempuannya yang sedang gila.
• Kakekku berkata : Ketika kami datang kepada Rasulullah SAW di Madinah, aku berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membawa anak-anakku atau anak perempuanku yang sedang gila, aku bawa dia kepadamu agar engkau mendo’akannya kepada Allah”.
• Nabi SAW berkata : “Bawalah dia kemari”. Kemudian aku pergi mengambilnya di kendaraan, lalu aku lepaskan ikatannya dan aku copot pakaian safarnya kemudian aku ganti dengan dua pakaian yang baik dan aku gandeng tangannya hingga kubawa kehadapn Rasulullah SAW.
• Lalu Rasulullah SAW berkata : “Dekatkanlah kepadaku dan hadapkan punggungnya kepadaku”.
• Ia (Kakekku) berkata : Kemudian Nabi SAW mengambil simpul-simpul kainnya dari atas dan bawahnya lalu memukul punggungnya hingga aku lihat putih kedua ketiaknya seraya berkata :
• “Keluarlah musuh Allah, Keluarlah musuh Allah”.
• Kemudian anak itu menatap dengan pandangan yang sehat tidak seperti pandangan sebelumnya,
• lalu Rasulullah SAW menundukkannya dihadapannya seraya berdo’a untuknya kemudian mengusap wajahnya.
• Setelah do’a Rasulullah SAW ini tidak ada seorang pun diantara rombongan yang lebih baik dari anak itu.
• Al Haitsami berkata : Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani sedangkan Ummu Abban tidak menyampaikan Riwayat kepada Mathar.(Majmma’uz Zawa’id).
Dari hadits ini dapat disimpulkan beberapa hal :
1. Syetan bisa merasuki manusia hingga menjadi gila
2. Kesurupan dapat menimbulkan penyakit pisik dan kejiwaan.
3. Kesurupan (kerasukan syetan) bisa diobati
4. Syetan bisa merasuki anak-anak hingga menjadi gila. Hal ini nampak jelas dari perkataan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam “Keluarlah musuh Allah” . Perintah keluar disampaikan tentunya setelah proses masuk sebelumnya.
Ketiga : Dalil logika
Jin adalah makhluk halus sedangkan manusia adalah makhluk berjasad. Maka Muhammad Al Hamid dalam buku Rududun ‘alal bathil berkata: Jika jin berjasad halus maka secara akal ataupun agama tidak mustahil bila masuk kedalam tubuh manusia, karena yang halus bisa masuk kedalam tubuh yang tebal, seperti udara bisa masuk kedalam tubuh kita, atau api bisa merasuk didalam bara, atau listrik mengalir dikabel, bahkan seperti air didalam tanah, pasir dan pakaian, padahal dia tidak sehalus udara dan listrik.
Sikap ahlul haq (ahli kebenaran) ialah menerima nash-nash yang memberitahukan bahwa jin bisa masuk kedalam tubuh manusia, kenyataannya mengenai hal ini pun telah banyak kita saksikan sehingga kita tidak boleh menolaknya. Bahwa wahyu telah memberitahukan hal ini. Kita dituntut menerimanya tanpa Ta’wil yang akan membawa nash-nash tersebut keluar dari jalannya yang benar kepada berbagai kebengkokan yang dapat dibenarkan oleh Islam dan Aqidah yang benar.
Kenyataan-kenyataan tentang masuknya jin kedalam tubuh manusia ini sangat banyak dan bisa disaksikan. Orang yang mengingkarinya, karena saking banyaknya peristiwa ini, akan bertabrakan dengan kenyataan-kenyataan empirik yang sekaligus menyatakan kesalahan pendapatnya tersebut.
Keempat : Dalil realitas
Sering kita menemukan atau mendengar berita tentang orang yang kesurupan, terkadang keluarga kita, kawan kita. Salah satu bukti realistis adalah seseorang yang ketika kesurupan dapat berbahasa Arab dengan baik padahal ketika ia sadar tidak dapat melakukannya. Ini diakibatkan karena jin yang menyusup pada orang itu pandai berbahasa Arab atau ia adalah jin berbangsa Arab.

Metode Pengobatan Kesurupan
Islam membagi metode pengobatan terhadap orang yang kesurupan dalam dua bagian besar, yaitu :

A. Metode yang bertentangan dengan syari’at
Adapun metode yang bertentangan dengan syari’at umumnya menggunakan jin, yaitu ber isti’anah (meminta pertolongan) kepada jin, bentuknya adalah dengan menggunakan bacaan/mantra-mantra yang mengandung unsur syirik. Dengan bacaan-bacaan/mantra-mantra itulah ia mengundang jin untuk memberikan pertolongan kepada orang yang kesurupan. Biasanya bacaan-bacaan ini menggunakan sebagian ayat-ayat Al Qur’an dengan maksud mengelabui dan selebihnya menggunakan bahasa yang tidak jelas dan tidak dipahami maknanya.
Allah berfirman :
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Artinya : Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.(QS.72: 6).

B. Metode yang sejalan dengan syari’at
Metode ini disebut juga “Ruqyah Syar’iyyah” yaitu pengobatan dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an, nama-nama dan sifat-sifat Allah, do’a-do’a yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau do’a-do’a yang berbahasa Arab yang jelas dan dipahami maknanya, dengan mengharapkan kesembuhan dari Allah semata. Rasulullah Shallallahu “Alaihi Wasallam berkata kepada ‘Auf bin Malik Radiyallahu ‘Anhu ketika beliau bertanya tentang ruqyah yang dilakukannya :
اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ. لاَ بَأْسَ باِلرُّقَى ماَلمَ ْتَكُنْ شِرْكًا
Artinya: “Perlihatkan kepadaku (metode) ruqyahmu, tidak mengapa ruqyah selama tidak (mengandung unsur) syirik” (Hadits Shahih Riwyat Muslim).
C. Cara Mengobati Kesurupan Karena Gangguan Jin
Cara mengobati kesurupan ini dilakukan dari dua pihak, pertama dari pasien yang sakit itu, dan kedua dari orang yang mengobatinya. Bagi pasien yang kesurupan, ia harus menguatkan diri dan tidak mudah menyerah dengan penyakit yang menyerangnya, ia harus mempergiat ibadah kepada Allah dan banyak membaca ta`awwudz, juga doa-doa yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada umatnya, sehingga hati dan lisannya menjadi terbiasa dengan doa dan ta`awwudz-ta`awwudz tadi. Sedangkan dari pihak yang mengobati, ia juga harus melakukan hal yang sama, seperti mempergiat ibadah dan semakin mendekatkan hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tanda yang bisa dijadikan patokan bahwa kita sedang berbicara dengan Jin, adalah jika sang pasien atau orang yang kesurupan ini: menutup kedua mata atau membelalakkannya, meletakkan kedua tangan pada mata, badan dan seluruh bagian tubuhnya gemetaran, menjerit dan berteriak keras, serta terus-terusan menyebut namanya.
Masa setelah penyembuhan adalah masa yang sangat sulit, karena seorang manusia yang baru saja kerasukan Jin dan berhasil diobati, kemungkinan besar Jin itu akan kembali lagi. Karena itu, orang yang baru saja ditinggalkan Jin ini harus :
• mengkhususkan diri dengan banyak beribadah kepada Allah,
• selalu menjaga shalat Lima waktu secara berjamaah,
• banyak membaca dzikir dan doa,
• banyak membaca atau mendengarkan Al-Qur`an,
• dan selalu membaca basmalah pada setiap urusan yang akan ia laksanakan.

SURAT-SURAT PENGUSIR SYETAN
A. Surat Al-Fatihah:
Di antara surat-surat yang ampuh untuk mengusir Jin dan syetan adalah surat Al-Fatihah. Seperti dalam hadits di bawah ini:

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ الصَّلْتِ عَنْ عَمِّهِ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ، فَمَرَرْتُ عَلَى قَوْمٍ عِنْدَهُمْ رَجُلٌ مَجْنـُوْنٌ مُوَثَّقٌ بِالْحَدِيْدِ، فَقاَلَ أَهْلُهُ: إِناَّ قَدْ حُدِّثْنَا أَنَّ صَاحِبَكَ هَذَا قَدْ جَاءَ بِخَيْرٍ فَهَلْ عِنْدَكَ شَيْءٌ تُدَاوِيْهِ، فَرَقَيْـتُهُ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ فَبَرَأَ، فَأَعْطَوْنِيْ مِنْهُ شَاةً، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبـَرْتُـهُ، فَقَالَ: ((هَلْ إِلاَّ هَذَا؟)). وَفِيْ رِوَايَةٍ: ((هَلْ قُلْتَ إِلاَّ هَذَا؟)) قُلْتُ: لاَ، قَالَ: ((خُذْهَا، فَلَعَمْرِيْ لَمَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةِ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةِ حَقٍّ)). [رواه أبو داود: 3420والنسائي:1032]

Dari Kharijah bin Ash-Shalt dari pamannya ia berkata: saya dulu datang menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk masuk ke dalam Islam. Setelah itu saya kembali ke kampung halamanku. Di tengah perjalanan, saya bertemu sekelompok kaum, yang diantara mereka terdapat orang gila sedang dibelenggu dengan besi.
 Kerabat orang gila itu berkata kepada saya: “Kami telah diberitahu bahwa temanmu ini (yaitu Rasulullah) telah banyak membawa kebaikan, sekarang berhubung anda baru saja bertemu dengannya, apakah anda memiliki sesuatu darinya untuk mengobati saudara kami yang gila ini?”
 Maka saya pun meruqyahnya dengan fatihatul kitab (Surat al-Fatihah), dan sembuhlah ia dari penyakit gilanya, kemudian mereka menghadiahiku seekor kambing.
 Saya langsung menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam dan menceritakan kisah yang baru saja terjadi.
 Beliau bertanya: “apakah kamu tidak membaca apa-apa selain Al-Fatihah?”
 Saya menjawab:”tidak”, beliau berkata lagi: “Kalau begitu terimalah kambing itu. Sungguh! Saya telah mendapati orang yang memakan upah dari ruqyah yang batil, tapi kamu memakan upah ini dari ruqyah yang benar.” (HR. Abu Dawud no: 3420 dan An-Nasai no: 1032).
B. Surat Al-Baqarah:
Surat Al-Baqarah juga Surat yang sangat ampuh untuk mengusir segala roh jahat. Seperti pada hadits berikut ini:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ اْلبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ اْلبَقَرَةِ)). [رواه مسلم: 6/68، والترمذي: 5/157].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah membuat rumah kalian seperti kuburan, karena syetan selalu terbirit-birit dari rumah yang surat Al-Baqarah dibaca padanya.” (HR. Muslim: 6/68 dan At-Tirmidzi: 5/153).
C. Surat Al-Ikhlash dan Al-Mu’awidzatain
Juga termasuk Surat yang ampuh untuk melindungi seorang hamba dari berbagai gangguan jin dan syetan adalah surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas. Seperti disebutkan dalam hadits dibawah ini:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ –رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: بَيْنَمَا أَنَا أَقُوْدُ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاحِلَتَهُ فِيْ غَزْوَةٍ، إِذْ قَالَ: ((يَا عُقْبَةَ، قُلْ)) فَاسْتـَمَعْتُ ثُمَّ قَالَ: ((يَا عُقْبَةُ، قُلْ)) فَاسْتَمَعْتُ، فَقَالَهَا الثَّالِثَةَ، فَقُلْتُ: مَا أَقُوْلُ؟ فَقَالَ: {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} فَقَرَأَ السُّوْرَةَ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ: {قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ اْلفَلَقِ} وَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ: {قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ} فَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَالَ: ((مَا تَعُوْذُ بِمِثْلِهِنَّ أَحَدٌ)) [رواه النسائي: 8/250].

Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu `anhu ia berkata: ketika saya membawa kekang kendaraan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam di suatu medan perang, beliau berkata kepada saya: “Wahai Uqbah, bacalah” saya hanya mendengarkan saja tanpa berucap apapun.”

Kemudian beliau berkata lagi: “Wahai Uqbah, bacalah!” saya tetap mendengarkan saja tanpa berkata apapun. Lalu beliau berkata lagi untuk ketiga kalinya.
Di sini saya bertanya: “Wahai rasulallah! Apa yang harus saya baca?” beliau menjawab: “katakanlah: Qul huwalloohu ahad”, beliau membaca surat ini sampai habis, kemudian membaca: Qul A`uudzu birobbil falaq, saya pun membacanya bersama beliau sampai selesai, kemudian melanjutkannya dengan membaca: Qul A`udzu biroobin naas, saya juga membacanya bersama beliau sampai selesai.
Lalu beliau bersabda: “Wahai Uqbah! Tidak ada seorangpun yang bakal dilindungi Allah dengan sepenuhnya kecuali dengan ketiga surat tadi” (HR. An-Nasai: 8/250)

AYAT-AYAT PENGUSIR JIN DAN SYETAN

A. Dengan Mengucapkan Ta’awudz :

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Allah Berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Fushshilat ayat 36).
B. Ayat Kursi:
Ayat Kursi sangat ampuh untuk mengusir roh jahat yang suka mengganggu. Hal ini berdasarkan kisah seorang lelaki yang mencuri harta zakat pada bulan ramadhan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu sedang menjaga harta langsung menangkap sang lelaki.
• Lelaki itu berkata: “lepaskan saya, jika anda melepaskanku niscaya kuajarkan beberapa kata yang sangat berguna bagi anda”.
• Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bertanya: “kata-kata apakah itu?”
• Sang lelaki menjawab: “setiap hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai, jika anda melakukannya niscaya anda senantiasa didampingi seorang malaikat yang menjaga, dan tak ada seekor syetan pun yang bisa mendekati anda hingga pagi hari”. Lalu Abu Hurairah melepaskannya.
• Keesokan harinya ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan menceritakan peristiwa yang baru saja ia alami.
• Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ketahuilah wahai Abu Hurairah! Orang ini telah berkata jujur padamu, padahal ia adalah ahli dusta, tahukah kamu siapakah lelaki yang berbicara denganmu selama tiga malam ini?”
• Abu Hurairah menjawab: “Tidak wahai Rasulullah!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: “lelaki itu adalah syetan.” (HR. Al-Bukhari: 4/487)
C. Dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah.

ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ، لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`at”. (Mereka berdo`a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. “(Qs. Al-Baqarah ayat 285 dan 286).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

((مَنْ قَرَأَ بِاْلآيـَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ اْلبَقَرَةِ فِيْ لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ))

“Siapa saja membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah niscaya Allah Melindunginya dari segala gangguan” (HR. Al-Bukhari: 6/323).
D. Setiap ayat dalam Al-Qur`an adalah penawar dan obat yang sangat ampuh bagi segala penyakit.
Setiap ayat yang menyebutkan janji Allah, baik yang berupa keni`matan atau siksaan, juga ayat yang membahas tentang neraka, dan ayat yang membahas tentang Jin dan syetan, semua ayat seperti ini adalah pengusir sangat ampuh bagi jin-jin dan syetan-syetan -dengan izin Allah- setiap kita membacanya. Dan keampuhannya semakin hebat terutama saat Jin tadi merasuki tubuh seorang manusia, ayat-ayat itu seperti:
1. Empat ayat pertama dari Surat Al-Baqarah, yaitu ayat 1 – 4 yang berbunyi:

الم(1)ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ(2)الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ(3)وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ(4

2. Dua ayat pada pertengahan Surat Al-Baqarah, yaitu ayat 163 sampai dengan 164.

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(163)إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(164

3. Ayat kursi dan dua ayat setelahnya, yaitu ayat 255 sampai dengan 257 dalam Surat Al-Baqarah.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ(255)لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ(256)اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(257)

4. Tiga ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah, yaitu ayat 284 sampai dengan 286.

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(284)ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ(285)لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ(286)

5. Empat ayat pertama dari Surat Ali `Imran, yaitu ayat 1 sampai dengan 4.

الم(1)اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ(2)نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ(3)مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ(4)

6. Ayat ke-18 dari Surat Ali `Imran.

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

7. Tiga ayat dalam Surat Al-A`raf, yaitu ayat 54 sampai dengan 56.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ(54)ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ(55)وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ(56)

8. Empat ayat terakhir dari Surat Al-Mu`minun, ayat 115, 116, 117, dan 118

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ(115)فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ(116)وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ(117)وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ(118 (

9. Ayat ke-3 dari Surat Al-Jinn.

وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

10. Sepuluh ayat pertama dari Surat ash-Shaaffat, ayat 1 sampai dengan 10.

وَالصَّافَّاتِ صَفًّا(1)فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا(2)فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا(3)إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ(4)رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ(5)إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ(6)وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ(7)لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ(8)دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ(9) إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ(10

11. Empat ayat terakhir dari Surat Al-Hasyr, ayat 21 – 24.

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ(21)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(22)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ(23)هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ )24(

12. Empat ayat dalam Surat Ar-Rahman, yaitu ayat 31, 32, 33, dan 34.

سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلَانِ(31)فَبِأَيِّ ءَالَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ(32)يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ(33)فَبِأَيِّ ءَالَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ(34)

13. Dua ayat terakhir dari Surat Al-Qalam, yaitu ayat 51 dan 52.

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ(51)وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ(52(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s