TAFSIR SURAT AL MAUN

SURAT AL MA’UN AYAT 1-7

(Gambaran Sikap Buruk Secara Horisontal dan Vertikal)

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,

3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

6. Orang-orang yang berbuat riya[1603],

7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna[1604].

[1603] riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.

[1604] sebagian Mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.

Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa ada seseorang,-diperselisihkan apakah dia itu Abu Sufyan , Abu Jahal atau Al ‘Ash Ibn Walid-, konon setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu hari seorang anak yatim dating meminta sedikit daging yang sudah disembelih itu namun ia tidak diberinya bahkan dihardik dan diusir. Peristiwa itu merupakan latar belakang turunnya ayat ketiga surat ini.

Pertanyaan yang diajukan ayat pertama ini bukannya bertujuan memperoleh jawaban, karena Allah Maha Mengetahui, tetapi bermaksud menggugah hati dan pikiran mitra bicara, agar memperhatikan kandungan pembicaraan berikutnya.

Dengan pertanyaan itu ayat diatas mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama (the sense of religiousity), yang tanpa itu keberagamaannya dinilai sangat lemah, kalau enggan berkata nihil.

Mendustakan (Hari) Pembalasan

Kata Ad Diin, dari segi bahasa antara lain berarti agama, kepatuhan dan pembalasan.
Kata tersebut dalam ayat diatas sangat popular diartikan dengan agama, tetapi dapat juga berarti pembalasan. Pendapat ini didukung oleh pengamatan yang menunjukkan bahwa Al Qur’an bila menggandengkan kata ad din dengan yukadzibu, maka konteksnya adalah pengingkaran terhadap hari kiamat, perhatikan antara lain dalam QS al Infithar : 9 dan at Tin : 7.
Sikap enggan membantu kepada sesame yang membutuhkan, karena dilatarbelakangi pemahaman bahwa yang dilakukan tidak ada efek apapun, hal ini menunjukkan sikap orang-orang yang tidak percaya akan adanya (hari) pembalasan. Tidak percaya adanya balasan di akhirat.
Seseorang yang kehidupannya dikuasai oleh kekinian dan kedisinian, tidak akan memandang hari kemudian yang berada jauh di depan sana. Sikap demikian merupakan pengingkaran serta pendustaan ad Din, baik dalam arti agama lebih-lebih lagi dalam arti hari Kemudian.
Agama menuntut adanya kepercayaan kepada yang Gaib. Kata gaib di sini bukan sekedar kepercayaan kepada Allah atau Malaikat, tetapi ia berkaitan dengan banyak hal, termasuk janji Allah melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberi bantuan.
Kepercayaan ini mengantarnya meyakini janji Ilahi tersebut, melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan-perhitungan aqliyah, sehingga ketika itu walau akalnya membisikkan bahwa:”Sikap yang akan diambilnya merugikan atau tidak menguntungka”, namun jiwanya yang mukmin itu mendorong untuk melakukannya.

1. Menghardik (Anak) Yatim

Kata yatiim ( يتيم ) terambil dari kata yutm, yang berarti kesendirian, karena itu permata yang sangat indah dan dinilai tidak ada duanya dinamai “durrah yatiimah”

Bahasa menggunakan kata tersebut untuk menunjuk anak amnesia yang belum dewasa yang ayahnya telah wafat, atau anak binatang yang induknya telah tiada. Kematian ayah, bagi mereka yang belum dewasamenjadikannya kehilangan pelindung, ia seakan-akan menjadi sendirian, sebatang kara karena itu dinamai yatim.
Makna ini dapat diperluas, sehingga mencakup semua orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan, sebagaimana diperkuat ayat berikutnya.

2. Tidak menganjurkan memberi makan/pangan orang miskin.

Kata Yahudhdhu/menganjurkan mengisyaratkan bahwa mereka yang tidak memiliki kelebihan apapun tetap dituntut paling tidak berperan sebagai “penganjur pemberi pangan”.
Ayat ini tidak memberi peluang sekecil apapun bagi setiap orang untuk tidak berpartisipasi dan merasakan betapa perhatian harus diberikan keapda setiap orang lemah dan membutuhkan bantuan.

3. Mereka lalai dari shalatnya

Al MUshalliin, walau dapat diterjemahkan dengan orang-orang yang shalat, tetapi dalam penggunaan al Qur’an ditemukan makna khusus baginya.
Biasanya al Qur’an menggunakan kata aqiimu dan akar katanya bila yang dimaksud adalah “shalat yang sempurna rukun dan syarat-syaratnya”.
Jika demikian, kata al mushallin pada ayat tersebut (tidak didahului kata aqimu dan yang seakar dengannya, mengisyaratkan bahwa shalat mereka itu tidak sempurna, tidak khusyu’ tidak pula memperhatikan syarat rukunnya, atau tidak menghayati arti dan tujuan hakiki dari shalat yang dilakukannya.
Penggunaan kata ‘an /tentang/menyangkut( عن ) juga punya rahasia tersendiri. Kalau dengan kata fi/dalam, dapat dipahami “celakalah orang-orang yang tidak khusyu’ dalam shalatnya, atau celakalah orang yang lupa jumlah rakaat shalatnya”. Syukur bahwa ayat tersebut berbunyi ‘an shalatihim, sehingga kecelakaan tertuju kepada mereka yang lalai tentang esensi makna dan tujuan shalat, bukan dalam pelaksanaan shalatnya…..

4. Riya’

Siapa yang melakukan pekerhjaannya sambil melihat manusia, sehingga jika tak ada yang melihatnya mereka tidak melakukannya.
Kata itu juga berarti bahwa mereka ketika melakukan suatu pekerjaan selalu berusaha atau berkeinginan agar dilihat dan diperhatikan orang lain untuk mendapat pujian mereka.
Dalam konteks ayat ini dapat diartikan sebagai ”melakukan suatu pekerjaan bukan karena Allah semata, tetapi untuk mencari pujian dan popularitas”.
Riya adalah sesuatu yang abstrak, sulit bahkan mustahil dapat dideteksi oleh orang lain, bahkan pelakunya sendiri terkadang tidak menyadarinya.
Riya’ digambarkan sebagai semut kecil lagi hitam berjalan dengan perlahan ditengah kelamnya malam di tubuh seseorang
Bandingkan dengan QS. Al Baqarah:264, tentang buah dari amal riya’

5. Tidak mau memberi pertolongan dengan barang berguna, sekecil apapun.

Membantu dengan bantuan yang jelas baik dengan alat-alat maupun fasilitas yang memudahkan tercapainya sesuatu yang diharapkan (pendapat ini kurang popular)
Tidak sedikit ulama yang berpendapat bahwa kata al maa’uun terambil dari kata al ma’n yang berarti sedikit. Bantuan yang sedikit itu, ada beerapa pendapat : Zakat, harta benda, alat-alat rumahtangga,, air, periuk, piring, sendok, gelas, pacul, palu pompa dll)

Pemenuhan Hakikat Shalat :

Dalam surat ini secara jelas dan tegas menerangkan bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah social atau membiarkannya berjalan sendiri-sendiri.

Dua syarat pokok atau tanda utama dari pemenuhan hakikat shalat :

Keikhlasan melakukannya demi karena Allah.
Merasakan kebutuhan orang-orang lemah dan kesdiaan mengulurkan bantuan walau yang kecil/sepele sekalipun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s